Last update: October 27, 2026
Kencur (Kaempferia galanga) merupakan tanaman rimpang dari keluarga jahe-jahean (Zingiberaceae) yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Rimpangnya yang kecil dengan aroma khas yang tajam dan sedikit pedas sering digunakan sebagai bumbu masakan seperti pecel dan urap, hingga menjadi bahan utama jamu beras kencur. Di balik aromanya yang khas, kencur menyimpan minyak atsiri dengan kandungan utama etil p-metoksisinamat (EPMC), senyawa yang banyak diteliti karena sifat anti-inflamasi dan antimikrobanya. Hal inilah yang menjadikan kencur tidak hanya sebagai penyedap, tetapi juga salah satu herbal tradisional yang bernilai bagi kesehatan.
Manfaat
Penggunaan kencur dalam ramuan tradisional maupun masakan sehari-hari diyakini dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan, antara lain:
- Membantu meredakan peradangan dan nyeri – Senyawa etil p-metoksisinamat dalam kencur diketahui mampu menekan zat pemicu peradangan seperti interleukin-1 (IL-1) dan TNF-α. Karena itu, kencur sejak lama digunakan secara tradisional untuk meredakan pegal linu, nyeri otot, dan nyeri sendi.
- Membantu melawan bakteri – Minyak atsiri kencur menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap beberapa jenis bakteri, termasuk Staphylococcus aureus, setidaknya dalam pengujian laboratorium.
- Melegakan batuk dan tenggorokan – Dalam pengobatan tradisional Indonesia, kencur, terutama dalam bentuk jamu beras kencur, kerap diminum untuk membantu melegakan batuk dan tenggorokan yang terasa tidak nyaman. Manfaat ini sebagian besar berasal dari pengalaman turun-temurun dan belum banyak diuji secara klinis.
- Kaya akan antioksidan – Ekstrak dan minyak atsiri kencur memiliki aktivitas antioksidan yang membantu menangkal radikal bebas penyebab stres oksidatif pada sel.
- Mendukung kesehatan pencernaan dan nafsu makan – Aroma dan rasa hangat kencur secara tradisional dimanfaatkan untuk menghangatkan perut, meredakan perut kembung, serta membangkitkan nafsu makan.
Kandungan Nutrisi
Kencur umumnya dikonsumsi dalam jumlah kecil, sehingga nilainya lebih terletak pada senyawa aktif daripada kandungan gizinya. Para peneliti telah mengidentifikasi sekitar 97 senyawa dalam rimpang kencur, di antaranya:
- Etil p-metoksisinamat (EPMC): ± 25–70% dari minyak atsiri, tergantung daerah tumbuhnya
- Etil sinamat: ± 5–28% dari minyak atsiri
- Senyawa minyak atsiri lainnya: borneol, pentadekana, dan δ-karena
- Golongan senyawa lain: terpenoid, fenolik, flavonoid (seperti kaempferol), dan diarilheptanoid
- Mineral: Kalium merupakan mineral dengan kadar tertinggi, disusul fosfor, magnesium, kalsium, dan zat besi
- Senyawa aktif unggulan: Etil p-metoksisinamat (EPMC)
Senyawa EPMC inilah yang memberikan aroma khas kencur sekaligus menjadi fokus utama berbagai penelitian tentang khasiatnya.
Dosis Konsumsi
Hingga saat ini belum ada uji klinis pada manusia yang menetapkan dosis kencur secara pasti. Berikut adalah panduan umum yang dapat dijadikan acuan:
- Porsi wajar: Penggunaan kencur dalam jumlah yang lazim sebagai bumbu masakan atau jamu beras kencur sesekali tergolong aman bagi kebanyakan orang.
- Rujukan farmakope: Farmakope Tiongkok mencantumkan dosis 6–9 gram rimpang kencur kering per hari, yang direbus sebagai air rebusan.
- Saran penyajian: Kencur segar dapat diparut atau ditumbuk, lalu diseduh bersama beras sangrai, gula merah, dan sedikit asam jawa untuk membuat jamu beras kencur. Kencur juga nikmat sebagai campuran sambal pecel dan urap.
- Tips memilih kencur: Pilih rimpang yang padat, tidak berkerut, dan beraroma kuat. Simpan di tempat kering dan sejuk agar tidak cepat bertunas atau berjamur.
Efek Samping
Kencur umumnya aman dikonsumsi dalam jumlah wajar, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Data keamanan pada manusia masih terbatas – Uji toksisitas pada hewan menunjukkan ekstrak kencur tidak menimbulkan keracunan, bahkan pada dosis tinggi. Namun, belum ada penelitian keamanan jangka panjang pada manusia.
- Kehamilan dan menyusui – Keamanan kencur dalam dosis obat bagi ibu hamil dan menyusui belum diteliti. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau bidan sebelum mengonsumsinya sebagai ramuan secara rutin.
- Reaksi alergi – Orang yang memiliki alergi terhadap tanaman keluarga jahe-jahean, seperti jahe atau kunyit, sebaiknya berhati-hati karena kemungkinan dapat mengalami reaksi serupa.
- Interaksi dengan obat-obatan – Belum banyak diketahui interaksi kencur dengan obat-obatan. Bagi yang sedang menjalani pengobatan rutin, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi kencur dalam jumlah besar atau dalam bentuk suplemen.
Penelitian Ilmiah
Berbagai literatur dan penelitian ilmiah telah mengkaji potensi khasiat kencur:
- Efek Anti-inflamasi dan Pereda Nyeri: Penelitian pada tikus dan sel manusia menunjukkan bahwa etil p-metoksisinamat dari kencur menghambat zat pemicu peradangan IL-1 dan TNF-α, mengurangi pembentukan jaringan radang, serta meningkatkan ketahanan terhadap rasa nyeri.
Jurnal Rujukan: Umar, M. I., dkk. (2014). “Ethyl-p-methoxycinnamate isolated from Kaempferia galanga inhibits inflammation by suppressing interleukin-1, tumor necrosis factor-α, and angiogenesis by blocking endothelial functions.” Clinics, 69(2), 134–144. - Tinjauan Fitokimia, Farmakologi, dan Toksikologi: Sebuah tinjauan komprehensif merangkum sekitar 97 senyawa dalam kencur serta aktivitasnya sebagai anti-inflamasi, antioksidan, antimikroba, dan antitumor. Tinjauan ini juga mencatat bahwa ekstrak kencur tidak menunjukkan toksisitas pada hewan uji, meski studi pada manusia masih diperlukan.
Jurnal Rujukan: Wang, S.-Y., dkk. (2021). “Kaempferia galanga L.: Progresses in Phytochemistry, Pharmacology, Toxicology and Ethnomedicinal Uses.” Frontiers in Pharmacology, 12, 675350. - Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba Minyak Atsiri: Minyak atsiri kencur yang kaya EPMC (± 66%) menunjukkan aktivitas antioksidan yang sebanding dengan vitamin C dalam uji laboratorium, serta mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Jurnal Rujukan: Begum, dkk. (2023). “Novel ethyl p-methoxy cinnamate rich Kaempferia galanga (L.) essential oil and its pharmacological applications: special emphasis on anticholinesterase, anti-tyrosinase, α-amylase inhibitory, and genotoxic efficiencies.” PeerJ, 11, e14606.